INFEKSI ODONTOGENIK PDF

Etiologi Penyebabnya adalah bakteri yang merupakan flora normal dalam mulut, yaitu bakteri dalam plak, dalam sulkus ginggiva, dan mukosa mulut. Bakteri yang utama ditemukan adalah bakteri kokus aerob gram positif, kokus anaerob gram positif dan batang anaerob gram negative. Bakteri-bakteri tersebut dapat menyebabkan karies, gingivitis, dan periodontitis. Jika mencapai jaringan yang lebih yang lebih dalam melalui nekrosis pulpa dan pocket periodontal dalam, maka akan terjadi infeksi odontogen Ariji et.

Author:Darisar Marn
Country:Angola
Language:English (Spanish)
Genre:Photos
Published (Last):27 December 2010
Pages:397
PDF File Size:3.42 Mb
ePub File Size:13.53 Mb
ISBN:928-6-59148-589-8
Downloads:11769
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kajishakar



Suatu abses akan terjadi bila bakteri dapat masuk ke jaringan melaui suatu luka atau pun melalui folikel rambut. Pada abses rahang dapat melalui foramen apical atau marginal gingival. Penyebaran infeksi melalui foramen periapikal berawal dari kerusakan gigi atau karies, kemudian terjadi proses inflamasi disekitar periapikal di daerah membrane periodontal berupa suatu periodontitis apikalis.

Rangsangan yang ringan dan kronis menyebabkan membrane periodontal diapikal mengadakan reaksi membentuk dinding untuk mengisolasi penyebaran infeksi. Respon jaringan periapikal terhadap iritasi tersebut berupa inflamasi akut atau kronis. Apabila terjadi akut akan berupa periodontiti apikalis yang supuratif atau abses dentoalveolar. Pada infeksi sekitar foramen apical terjadi nekrosis jaringan disertai akumulasi leukosit yang banyak dan sel-sel inflamasi lainnya. Sedangkan pada jaringan disekitar abses akan tampak hiperemi pembuluh darah dan edema.

Buila masa infeksi bertambah maka tulang sekitarnya akan tersangkut, dimulai dengan hiperemi pembuluh darah kemudian infiltrasi leukosit dan akhirnya terjadi proses supurasi. Penyebaran selanjutnya akan melalui kanal tulang menuju permukaan tulang dan periosteum. Tahap berikutnya periosteum akan pecah dan pus akan berkumpul pada suatu tempat diantara spasium sehingga membentuk nsuatu rongga patologis.

Keterlibatan suatu spasium tergantung pada gigi penyebab, letak apeks gigi penyebab terhadap insersi otot yang melekat sekitar gigi dan kedekatannya kearah bukal atau lingual.

Pada keadaan tertentu dapat terkena lebih dari satu spasium, hal ini merupakan keadaan yang sangat serius didalam penyebaran infeksi sampai dapat menimbulkan suatu penyebaran yang lebih jauh kearah atas kepala dan kebawah leher sampai ke mediastinum.

Pada anak-anak sekitar 0,3 derajat lebih tinggi dan temperatur pada axila atau inguinal biasanya derajat lebih rendah. Peningkatan suhu merupakan salah satu gejala infeksi, tetapi harus diingat bahwa peningkatan suhu merupakan salah satu manifestasi penyakit neoplasma, seperti limphoma, inflamasi yang bukan infeksi seperti rheumatoid arthitis atau akibat seperti pada tirotoxicosis. Peningkatan temperatur pada infeksi disebabkan pusat termogulasi pada hipotalamus distimulasi oleh endogen pirogen yang diaktivasi oleh endotoksin bakteri pelepasan granulosit, monosit dan makrofag.

Gejala Infeksi Gejalan yang muncul pada proses inflamsi terlihat pada beberapa tingkatan dan tidak selalu terlihat pada semua penderita dengan infeksi. Gejala-gejala tersebut berupa: Rubor atau kemerahan terlihat pada daerah permukaan infeksi yang merupakan akibat vasodilatasi. Tumor atau odema merupakan pembengkakan daerah infeksi. Kalor atau panas merupakan akibat aliran darah dan meningkatnya metabolisme.

Dolor atau rasa sakit, merupakan akibat ransangan pada saraf sensorik yang sebabkan pembengkakan atau perluasan jaringan infeksi. Limphadenopati Pada infeksi akut, kalenjar limfe membesar, lunak dan sakit. Kulit di sekitarnya memerah dan jaringan yang berhubungan membengkak. Pada infekksi kronis perbesaran kelenjar limfe lebih atau kurang keras tergantung derajat inflamsi, seringkali tidak lunak dan pembengkakan jaringan di sekitarnya biasanya tidak terlihat. Lokasi perbesaran kelenjar limfe merupakan daerah indikasi terjadinya infeksi.

Rencana Perawatan Sebelumnya kita terlebih dahulu mengetahui prinsip penanganan infeksi yaitu: 1. Penilaian berat ringannya infeksi 2. Evaluasi dari tingkatan mekanisme pertahanan tubuh 3. Menentukan apakah penderita memerlukan perawatan spesialis 4.

Lakukan intervensi bedah 6. Pilih antibiotik yang sesuai 7. Evaluasi dan monitor keadaan penderita Berdasarkan prinsip-prinsip diatas maka perawatan infeksi orofacial yang disebabkan oleh infeksi odontogenik pertama-tama harus ditujukan pada eliminasi simtom akutnya.

Dalam hal ini penilaian stadium infeksi, pengambilan keputusan yang tepat untuk memberikan antibiotika, melakukan insisi untuk drainase atau menghilangkan penyebab infeksi sangat menentukan perkembangan infeksi selanjutnya. Infeksi odontogenik yang disertai dengan keadaan gawat darurat perlu ditangani secepatnya.

Adapun dasar-dasar perawatannya sebagai berikut : Penanganan gawat darurat. Jangan lupa awasi tanda-tanda vital, pemeriksaan laboratorium, kultur specimen. Bila infeksi mereda sampai hari berarti antibiotika secara empiris yang digunakan telah memadai. Bila tidak maka digunakan antibiotika hasil uji kepekaan. Perawatan gigi sumber infeksi Setelah tanda-tanda inflamasi mereda, gigi yang merupakan infeksi primer, segera lakukan ekstraksi, bila perlu kuretase sampai jaringan nekrosis pada soket bekas ekstraksi bersih.

BULLETIN 800H PDF

INFEKSI ODONTOGEN

Shakakasa Infeksi leher bagian dalam yang paling sering terjadi adalah infeksi pada ruang submandibula atau abses submandibula. User Username Password Remember me. Ppt Infeksi Virus 1 Documents. Abstract Infectious disease, in the ENT department is still common to find in the community.

DESERT OF ARTHAS DUNGEON TILES PDF

INFEKSI ODONTOGENIK PDF

Suatu abses akan terjadi bila bakteri dapat masuk ke jaringan melaui suatu luka atau pun melalui folikel rambut. Pada abses rahang dapat melalui foramen apical atau marginal gingival. Penyebaran infeksi melalui foramen periapikal berawal dari kerusakan gigi atau karies, kemudian terjadi proses inflamasi disekitar periapikal di daerah membrane periodontal berupa suatu periodontitis apikalis. Rangsangan yang ringan dan kronis menyebabkan membrane periodontal diapikal mengadakan reaksi membentuk dinding untuk mengisolasi penyebaran infeksi. Respon jaringan periapikal terhadap iritasi tersebut berupa inflamasi akut atau kronis.

Related Articles