FI ZHILALIL PDF

Conclusions[ edit ] From a social and political standpoint, some of the more important conclusions Qutb drew in his interpretation include: On freedom of religion: Islam came to declare and establish the great universal principle that: "There shall be no compulsion in religion. The right way is henceforth distinct from error. Here lies the essence of human emancipation which 20th-century authoritarian and oppressive ideologies and regimes have denied mankind. Modern man has been deprived of the right to choose and live other than according to what is dictated by the state, using the full force of its colossal machinery, laws and powers. People are today given the choice only to adhere to the secular state system, which does not allow for a belief in God as the Creator and Master of the world, or to face annihilation. Freedom of belief is the most basic right that identifies man as a human being.

Author:Goltit Zulunris
Country:France
Language:English (Spanish)
Genre:Video
Published (Last):13 September 2010
Pages:339
PDF File Size:1.48 Mb
ePub File Size:11.26 Mb
ISBN:970-3-55432-999-7
Downloads:27311
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kagataxe



Tahap pemikiran sebelum mempunyai orientasi Islam 2. Tahap mempunyai orientasi Islam secara umum 3. Tahap pemikiran berorientasi Islam militan Pada fase ketiga inilah, Sayyid Qutb sudah mulai merasakan adanya keenggan dan rasa muak terhadap westernisme, kolonialisme dan juga terhadap penguasa Mesir.

Masa-masa inilah yang kemudian menjadikan beliau aktif dalam memperjuangnkan islam dan menolak segala bentuk westernisasi yang kala itu sering digembor-gemborkan oleh para pemikir Islam lainnya yang silau akan kegemilingan budaya-budaya barat. Dalam pandangannya, Islam adalah way of life yang komprehansif. Islam adalah ruh kehidupan yang mengatur sekaligus memberikan solusi atas problem sosial-kemasyarakatan. Adapun pemikiran beliau yang sangat mendasar adalah keharusan kembali kepada Allah dan kepada tatanan kehidupan yang telah digambarkan-Nya dalam Al-Quran, jika manusia menginginkan sebuah kebahagiaan, kesejahteraan, keharmonisan dan keadilan dalam mengarungi kehidupan dunia ini.

Dan tidak heran jika penafsiran-penafsiran yang telah diusahakan oleh ulama klasik perlu disesuaikan kembali dalam masa sekarang. Termasuk diantaranya adalah melakukan Pembaruan dalam bidang penafsiran dan disatu sisi beliau mengesampingkan pembahasan yang diarasa kurang begitu penting. Melalui pendekatan semacam ini diharapkan Allah dapat memberikan manfaat serta hidayah-Nya. Disatu pihak ada yang menerimanya dan dipihak lain ada yang menolaknya dengan beberapa argumentasi mereka masing-masing.

Ini dapat dilihat ketika beliau menafsirkan kandungan ayat surat al-Baqarah. Adanya pergantian sebagian ketentuan sebagian hukum adalah untuk kepentingan dan kemashlahatan manusia, serta untuk merealisasikan kebaikan yang jauh lebih besar sesuai tuntutan perkmbangan masyarakat.

Selain itu, Allah sebagai sang pencipta memang mempunyai hak prerogratif melakukan hal tersebut. Sayyid Qutb melihat naskh dari perspektif ganda, yaitu perspektif Tuhan dan manusia. Seakan-akan dia mengatakan, terjadinya naskh merupakan kemauan Tuhan dan untuk kepentingan manusia. Selain itu, nashk juga sesuai dengan watak ajaran islam yang evolotif yang lebih mengedepankan kemashlahatan umat. Namun, tidak menjadi persoalan, mengigat kondisi masyarakat pada risalah Nabi merupakan contoh bagi perkembangan masyarakat manusia sepanjang masa.

Dengan demikian gerak sejarah manusia tidak akan keluar dari dinamika masyarakat Arab pada masa Nabi. Oleh karena itu, menurut Sayyid Qutb sendiri gambaran seluruh persoalan sejarah umat manusia telah ditemukan jawabannya dalam teks suci melalu pemahaman baku masyarakat masa risalah. Atas asumsi itulah, Sayyid Qutb disebut sebagai pemikir Fundamentalisme Islam; pemikir yang mempunyai romantisme terhadap masa lalu Islam klasik , dan secara singkatnya dia ingin mewujudkan gambaran masyarakat masa lalu kedalam masa sekarang dan yang akan datang.

Maka dari itu mereka berpendapat bahwa dahulu perbandinagn pada saat bertempur dengan kaum kafir adalah satu banding sepuluh. Artinya, satu kaum muslimin diwajibkan menumpas sepuluh orang kafir. Lalu datanglah ayat berikutnya yang berisi tentang keringanan yang diberikan oleh Allah kepada orang islam berupa satu orang islam melawan dua oang kafir. Inilah model penafsiran ulama-ulama klasik. Sayyid Qutb mencoba menghadirkannya dalam zaman sekarang.

Beliau berpendapat, ayat ini berbicara mengenai taksiran kekuatan pasukan muslim menghadapi pasukan kafir dalam pandanagan Tuhan. Namun inti dari semua itu adalah untuk menenteramkan jiwa kaum muslimin agar tidak cepat gentar dan patah semangat dalam menghadapi pasukan musuh yang berjumlah besar. Menurut Sayyid Qutb, dari ayat ini dapat diambil pelajar tentang mentalitas umat islam. Kemenangan bukanlah terletak pada banyaknya jumlah, melainkan pada mentalitasnya. Meski berjumlah sedikit, umat islam dapat memperoleh kemenangan, asalkan mempunyai militan yang mempunyai semangat juang yang gigih.

Perjuangan dan pembebasan dari segala tirani merupakan sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan umat Islam. Kitab ini telah diterbitkan pada tahun Edisi ini telah dicetak dan diterbitkan oleh Dian Darul Naim Sdn Bhd, kota bharu, kelantan dengan cetakan pertama pada tahun Tafsirnyaini tidak menggunakan metode tafsir tradisional, yaitu metode yang selalu merujuk keulasan sebelumnya yang sudah diterima.

Iman itu harus diterapkan langsung dalam tindakan sehari-hari. Selain kedua sumber tersebut, beliau juga mengambil referensi dari berbagai dsiplin ilmu, yakni sejarah, biografi, fiqh, bahkan social, ekonomi, psikologi, dan filsafat. Saat itu, Mesir sedang mengalami krisis politik yang mengakibatkan terjadinya kudeta militer pada bulan juli Pada saat itulah, Sayyid Qutb memulai mengembangkan pemikirannya yang lebih mengedepankan terhadap kritik sosial dan politik.

Oleh karenanya, tak heran memang jika kita melihat upaya-upaya yang dilakukan Sayyid Qutb dalam tafsirnya lebih cenderung mengangkat terma sosial-kemasyarakatan. Said Ramadhan yang merupakan redaksi majalah al-Muslimun yang ia terbitkan di Kairo dan Damaskus. Dia meminta Sayyid Qutb untuk mengisi rubrik khusus mengenai penafsiran al-Quran yang akan diterbitkan satu kali dalam sebulan.

Akan tetapi kepenulisan tafsir tersebut tidak langsung serta merta dalam bentuk 30 juz. Setiap juz kitab tersebut terbit dalam dua bulan sekali dan ada yang kurang dalam dua bulan dan sisa-sisa juz itu beliau selesaikan ketika berada dalam tahanan.

Tafsirnyaini tidak menggunakan metode tafsir tradisional, yaitu metode yang selalu merujuk ke ulasan sebelumnya yang sudah diterima. Pandangan Ulama terhadap kitab [20] 1. Shukri Mohamad Timbalan Mufti Negeri Kelantan turut menyatakan bahawa tafsir ini adalah lain dari yang lain.

CELEBRITY EQUINOX DECK PLANS PDF

TAFSIR FI ZILALIL QURAN

.

LB1845 DATASHEET PDF

.

KAMAG 2400 PDF

.

BIBLIA ANTIGUA VERSION DE CASIODORO DE REINA 1569 PDF

.

Related Articles